Rabu, 31 Oktober 2007

Antara Lingkungan, Kultur dan Mendengkur

Se­lamat pagi Indonesia! Isu lingkungan dewasa ini su­­­dah men­jadi sarapan pa­gi ba­gi kita semua, ba­ik itu ma­syarakat global ma­upun khu­­sus­nya bagi kita orang Indo­ne­sia. Dampak yang tim­bul dari ke­la­laian manusia diseluruh penjuru du­nia ti­dak ter­kecuali masyarakat In­­­do­­ne­sia dalam memandang pen­­ting­­­nya men­jaga dan meles­ta­ri­kan ling­ku­ngan hidup tem­pat kita hi­dup dan beranak-pinak diatas bu­mi yang se­ma­­kin tua ini se­­makin me­­­­­nge­rikan na­­mun ke­rap­­­kali te­r­a­ba­i­kan.
Berbagai MoU (Me­mo­­ran­dum of Un­­­­der­stan­­ding) ten­tang ling­­ku­ngan te­­lah di­se­pa­kati, Pro­to­­kol Kyoto telah di­ta­n­da­ta­ngani be­­berapa tahun yang lalu, Un­dang-un­dang tentang ling­ku­ngan te­lah di­setujui pe­me­rin­tah na­mun tetap sa­ja ma­sih ada di­sa­na-sini kita li­hat dan kita de­ngar be­­rita tentang ke­rusakan ling­ku­ngan dan ribuan nya­­wa me­layang ka­rena kelalaian ma­nusia men­­ja­ga dan meles­ta­ri­kan ling­ku­ngan.
Khususnya di Indonesia isu ling­­kungan ma­sih menjadi suatu ma­­salah yang begitu pelik dan se­ma­kin tidak berangsur-angsur men­­jadi se­makin baik. Liat saja se­­perti masalah sampah yang ter­­jadi di kota Jakarta dan Ban­dung dan ham­pir seluruh kota be­sar di ne­geri kita ini sam­pai men­ja­di ma­sa­lah sosial yang semakin ru­mit un­­tuk diatasi. Belum lagi kita ngo­­mong masalah pen­cemaran lim­bah pa­brik yang mengandung lo­­gam be­rat seperti yang terjadi di Buyat. A­­taupun penambangan pa­sir timah di propinsi Bangka Be­li­tung yang di­­lakukan secara spo­ra­dis tanpa a­da­nya pengawasan se­cara kom­pre­hensif dalam pe­nge­lolaan lim­bah­­­nya. Illegal Log­ging yang su­dah mem­be­ra­ngus ham­pir 40% ka­wa­san hutan negeri kha­tulistiwa se­­raya ti­dak akan per­nah berhenti me­­matikan chain saw-nya .
Kalau kita melongok ba­gai­ma­na te­tangga kita Jepang yang da­hu­lu per­nah mengalami mendung ke­lam ka­rena penduduknya ba­nyak yang me­ngalami sindroma mi­namata ka­rena lingkungan hi­dup mereka ter­cemar limbah lo­gam berat, se­ge­ra membuat an­ti­si­pasi supaya fe­nomena ling­ku­ngan yang me­nge­ri­kan itu ti­dak ter­jadi lagi. Seluruh kom­ponen yang ada di negeri sa­ku­ra itu, ter­masuk pemerintahanya ber­sama-sa­ma berkomitmen un­tuk me­me­li­hara dan memanfaatkan ling­ku­ngan sesuai dengan a­turan yang a­da. Beberapa tahun kemu­di­an me­reka sudah dapat me­reguk ha­sil dari komitmen dan ke­di­si­pli­nan ber­sama dalam men­ciptakan ling­ku­ngan mereka menjadi lebih ba­ik. Bahkan me­reka bak seorang tu­­kang sulap, sampah yang di­ha­sil­­kan rumah tang­ga maupun pa­brik dengan menggunakan tek­no­lo­­gi mutakhir da­pat dijadikan men­ja­di barang yang berguna seperti me­­ja, kursi bah­kan sampai bisa men­­jadi bahan campuran con­struk­­si jalan tol.
Kok bisa ya? Rahasianya ter­nya­ta sederhana, orang-orang ma­ta sipit itu memiliki kedisiplinan yang luar biasa, dengan me­na­nam­kan pengetahuan lingkungan se­da­ri dini, mulai mereka du­duk di bang­ku sekolah dasar sudah dia­jar­kan bagaimana mem­per­la­ku­kan sam­pah dengan be­nar, baik itu me­milah dan mem­­buang sam­pah dan juga mem­be­­ri­kan penge­ta­hu­an ten­tang ke­­un­tu­ngan dan ke­ru­gian ten­tang sam­pah. Tidak tang­­gung-tang­gung pula pe­nge­na­lan ling­ku­ngan ter­se­but sudah di­ja­dikan se­ba­gai mu­a­tan sekolah di­ seluruh sekolah.
Kegagalan Indonesia dalam me­nang­­­gulangi dampak lingkungan ti­­­dak terlepas dari kultur ma­sya­ra­kat In­d­onesia yang kurang di­si­plin, ha­nya segelintir orang saja yang me­mi­liki kepedulian dan ko­mit­men da­lam menjaga ling­ku­ngan tempat me­reka tinggal. Law en­­forcement me­ngenai lingkungan ju­ga tidak ber­jalan secara te­gas dan kon­sis­ten. Kesan yang mun­cul ke­per­mu­ka­­an adalah ki­ta se­mua masih se­te­ngah hati menjaga ke­­les­tarian ling­kungan tempat kita ting­gal mau­pun sum­ber daya alam ki­ta. Da­lam masyarakat kita ju­ga sa­­ngat kentara sekali kurangnya ke­­pe­­du­lian mengenai hal-hal se­der­­ha­na, seperti halnya mem­bu­ang sam­pah tidak pada tem­pat­nya tan­pa me­milahnya apa itu sam­pah ba­sah atau kering men­j­adi suatu hal yang wajar untuk di­la­kukan.
Akibatnya bisa ditanggung dan di­­rasakan sen­diri oleh ma­sya­ra­kat se­cara langsung. Sam­pah meng­gu­nung, air sungai menjadi ke­ruh, ba­­nyak sekali muncul penyakit, le­bih parahnya la­gi ma­sya­rakat In­do­nesia mengalami pho­bia ma­sal akan keberadaan sam­pah. Dalam be­nak ma­sya­ra­kat Indo­nesia sam­pai saat ini sam­pah ma­sih men­ja­di momok yang begitu di­ta­kuti dan meng­gang­gu.
Coba kita ingat kembali kasus TPST Bojong, ma­syarakat me­no­lak mentah-mentah kehadiran tem­­­pat pengelolaan sampah se­men­­tara di dae­rah itu. Hal itu wa­jar sekali muncul, pasalnya se­la­ma ini yang mereka ke­ta­hui sam­pah adalah sesuatu yang bau, tem­­pat dimana segala pe­nya­kit be­­rasal dan sangat merugikan me­­reka. Dan selama ini pe­nge­lo­la­an sampah hanya mandeg sam­pai menjadi pupuk or­ganik saja.
Pemerintah pusat pun juga ter­ke­­san kurang serius mengatasi ma­­­salah lingkungan, terbukti alo­kasi APBN untuk masalah ling­ku­ngan hidup sangat minim seka­li. Selain kurangnya sosialisasi ten­­tang bagaimana keuntungan dan kerugian dalam pengelolaan ling­­kungan hidup terutama ma­sa­lah sampah, pemerintah harus da­pat merubah stigma negatif ma­syarakat terhadap sampah.
Kalau kita memang mau untuk me­nabuh genderang perang me­nge­nai masalah ini tentunya kita ha­rus dapat mengadopsi ke­ber­ha­si­lan negara sakura dalam me­nga­tasi masalah ini, de­ngan mem­bangun segala infrastruktur pe­nunjang pengelolaan sam­pah men­jadi sampai menjadi berbagai pro­duk yang ber­man­faat sehingga sam­pai dapat memiliki nilai eko­no­mis bagi me­reka.
Hal tersebut sangat diperlukan, ka­­rena mungkin dengan cara se­per­­ti itu masyarakat kita tidak me­lihat sampah hanya sebagai mo­­mok saja melainkan juga dapat mem­­bawa keuntungan. Namun se­­mua itu kembali kepada sel­u­ruh kom­ponen di negeri ini, kalau sa­­ja ki­ta masih berkutat dengan ke­ti­dakdisiplinan dan in­kon­sis­ten­si ma­sal baik antara pemerintah se­ba­gai pemegang kebijakan dan ma­­syarakat dalam memelihara dan me­manfaatkan ling­ku­ngan de­ngan baik itu semua tetap akan men­jadi hal yang mustahil un­tuk di­wujud­kan.
Pilihannya jelas sekali, kita la­ku­kan sedari sekarang atau ti­­dak. Apa kita masih mau menunggu da­tangnya bencana lagi? A­tau, a­pa­kah kita setiap hari dapat ter­ti­dur pulas sampai men­deng­kur ka­rena lingkungan hidup kita sehat dan lebih sejahtera ba­nyak men­da­patkan uang tambahan dari me­ngelola sampah. Sun­gai kita jer­nih airnya karena bersih dari sam­pah? Anda pilih yang mana?

Tidak ada komentar: