Selamat pagi Indonesia! Isu lingkungan dewasa ini sudah menjadi sarapan pagi bagi kita semua, baik itu masyarakat global maupun khususnya bagi kita orang Indonesia. Dampak yang timbul dari kelalaian manusia diseluruh penjuru dunia tidak terkecuali masyarakat Indonesia dalam memandang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup tempat kita hidup dan beranak-pinak diatas bumi yang semakin tua ini semakin mengerikan namun kerapkali terabaikan.
Berbagai MoU (Memorandum of Understanding) tentang lingkungan telah disepakati, Protokol Kyoto telah ditandatangani beberapa tahun yang lalu, Undang-undang tentang lingkungan telah disetujui pemerintah namun tetap saja masih ada disana-sini kita lihat dan kita dengar berita tentang kerusakan lingkungan dan ribuan nyawa melayang karena kelalaian manusia menjaga dan melestarikan lingkungan.
Khususnya di Indonesia isu lingkungan masih menjadi suatu masalah yang begitu pelik dan semakin tidak berangsur-angsur menjadi semakin baik. Liat saja seperti masalah sampah yang terjadi di kota Jakarta dan Bandung dan hampir seluruh kota besar di negeri kita ini sampai menjadi masalah sosial yang semakin rumit untuk diatasi. Belum lagi kita ngomong masalah pencemaran limbah pabrik yang mengandung logam berat seperti yang terjadi di Buyat. Ataupun penambangan pasir timah di propinsi Bangka Belitung yang dilakukan secara sporadis tanpa adanya pengawasan secara komprehensif dalam pengelolaan limbahnya. Illegal Logging yang sudah memberangus hampir 40% kawasan hutan negeri khatulistiwa seraya tidak akan pernah berhenti mematikan chain saw-nya .
Kalau kita melongok bagaimana tetangga kita Jepang yang dahulu pernah mengalami mendung kelam karena penduduknya banyak yang mengalami sindroma minamata karena lingkungan hidup mereka tercemar limbah logam berat, segera membuat antisipasi supaya fenomena lingkungan yang mengerikan itu tidak terjadi lagi. Seluruh komponen yang ada di negeri sakura itu, termasuk pemerintahanya bersama-sama berkomitmen untuk memelihara dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan aturan yang ada. Beberapa tahun kemudian mereka sudah dapat mereguk hasil dari komitmen dan kedisiplinan bersama dalam menciptakan lingkungan mereka menjadi lebih baik. Bahkan mereka bak seorang tukang sulap, sampah yang dihasilkan rumah tangga maupun pabrik dengan menggunakan teknologi mutakhir dapat dijadikan menjadi barang yang berguna seperti meja, kursi bahkan sampai bisa menjadi bahan campuran construksi jalan tol.
Kok bisa ya? Rahasianya ternyata sederhana, orang-orang mata sipit itu memiliki kedisiplinan yang luar biasa, dengan menanamkan pengetahuan lingkungan sedari dini, mulai mereka duduk di bangku sekolah dasar sudah diajarkan bagaimana memperlakukan sampah dengan benar, baik itu memilah dan membuang sampah dan juga memberikan pengetahuan tentang keuntungan dan kerugian tentang sampah. Tidak tanggung-tanggung pula pengenalan lingkungan tersebut sudah dijadikan sebagai muatan sekolah di seluruh sekolah.
Kegagalan Indonesia dalam menanggulangi dampak lingkungan tidak terlepas dari kultur masyarakat Indonesia yang kurang disiplin, hanya segelintir orang saja yang memiliki kepedulian dan komitmen dalam menjaga lingkungan tempat mereka tinggal. Law enforcement mengenai lingkungan juga tidak berjalan secara tegas dan konsisten. Kesan yang muncul kepermukaan adalah kita semua masih setengah hati menjaga kelestarian lingkungan tempat kita tinggal maupun sumber daya alam kita. Dalam masyarakat kita juga sangat kentara sekali kurangnya kepedulian mengenai hal-hal sederhana, seperti halnya membuang sampah tidak pada tempatnya tanpa memilahnya apa itu sampah basah atau kering menjadi suatu hal yang wajar untuk dilakukan.
Akibatnya bisa ditanggung dan dirasakan sendiri oleh masyarakat secara langsung. Sampah menggunung, air sungai menjadi keruh, banyak sekali muncul penyakit, lebih parahnya lagi masyarakat Indonesia mengalami phobia masal akan keberadaan sampah. Dalam benak masyarakat Indonesia sampai saat ini sampah masih menjadi momok yang begitu ditakuti dan mengganggu.
Coba kita ingat kembali kasus TPST Bojong, masyarakat menolak mentah-mentah kehadiran tempat pengelolaan sampah sementara di daerah itu. Hal itu wajar sekali muncul, pasalnya selama ini yang mereka ketahui sampah adalah sesuatu yang bau, tempat dimana segala penyakit berasal dan sangat merugikan mereka. Dan selama ini pengelolaan sampah hanya mandeg sampai menjadi pupuk organik saja.
Pemerintah pusat pun juga terkesan kurang serius mengatasi masalah lingkungan, terbukti alokasi APBN untuk masalah lingkungan hidup sangat minim sekali. Selain kurangnya sosialisasi tentang bagaimana keuntungan dan kerugian dalam pengelolaan lingkungan hidup terutama masalah sampah, pemerintah harus dapat merubah stigma negatif masyarakat terhadap sampah.
Kalau kita memang mau untuk menabuh genderang perang mengenai masalah ini tentunya kita harus dapat mengadopsi keberhasilan negara sakura dalam mengatasi masalah ini, dengan membangun segala infrastruktur penunjang pengelolaan sampah menjadi sampai menjadi berbagai produk yang bermanfaat sehingga sampai dapat memiliki nilai ekonomis bagi mereka.
Hal tersebut sangat diperlukan, karena mungkin dengan cara seperti itu masyarakat kita tidak melihat sampah hanya sebagai momok saja melainkan juga dapat membawa keuntungan. Namun semua itu kembali kepada seluruh komponen di negeri ini, kalau saja kita masih berkutat dengan ketidakdisiplinan dan inkonsistensi masal baik antara pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat dalam memelihara dan memanfaatkan lingkungan dengan baik itu semua tetap akan menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Pilihannya jelas sekali, kita lakukan sedari sekarang atau tidak. Apa kita masih mau menunggu datangnya bencana lagi? Atau, apakah kita setiap hari dapat tertidur pulas sampai mendengkur karena lingkungan hidup kita sehat dan lebih sejahtera banyak mendapatkan uang tambahan dari mengelola sampah. Sungai kita jernih airnya karena bersih dari sampah? Anda pilih yang mana?
Berbagai MoU (Memorandum of Understanding) tentang lingkungan telah disepakati, Protokol Kyoto telah ditandatangani beberapa tahun yang lalu, Undang-undang tentang lingkungan telah disetujui pemerintah namun tetap saja masih ada disana-sini kita lihat dan kita dengar berita tentang kerusakan lingkungan dan ribuan nyawa melayang karena kelalaian manusia menjaga dan melestarikan lingkungan.
Khususnya di Indonesia isu lingkungan masih menjadi suatu masalah yang begitu pelik dan semakin tidak berangsur-angsur menjadi semakin baik. Liat saja seperti masalah sampah yang terjadi di kota Jakarta dan Bandung dan hampir seluruh kota besar di negeri kita ini sampai menjadi masalah sosial yang semakin rumit untuk diatasi. Belum lagi kita ngomong masalah pencemaran limbah pabrik yang mengandung logam berat seperti yang terjadi di Buyat. Ataupun penambangan pasir timah di propinsi Bangka Belitung yang dilakukan secara sporadis tanpa adanya pengawasan secara komprehensif dalam pengelolaan limbahnya. Illegal Logging yang sudah memberangus hampir 40% kawasan hutan negeri khatulistiwa seraya tidak akan pernah berhenti mematikan chain saw-nya .
Kalau kita melongok bagaimana tetangga kita Jepang yang dahulu pernah mengalami mendung kelam karena penduduknya banyak yang mengalami sindroma minamata karena lingkungan hidup mereka tercemar limbah logam berat, segera membuat antisipasi supaya fenomena lingkungan yang mengerikan itu tidak terjadi lagi. Seluruh komponen yang ada di negeri sakura itu, termasuk pemerintahanya bersama-sama berkomitmen untuk memelihara dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan aturan yang ada. Beberapa tahun kemudian mereka sudah dapat mereguk hasil dari komitmen dan kedisiplinan bersama dalam menciptakan lingkungan mereka menjadi lebih baik. Bahkan mereka bak seorang tukang sulap, sampah yang dihasilkan rumah tangga maupun pabrik dengan menggunakan teknologi mutakhir dapat dijadikan menjadi barang yang berguna seperti meja, kursi bahkan sampai bisa menjadi bahan campuran construksi jalan tol.
Kok bisa ya? Rahasianya ternyata sederhana, orang-orang mata sipit itu memiliki kedisiplinan yang luar biasa, dengan menanamkan pengetahuan lingkungan sedari dini, mulai mereka duduk di bangku sekolah dasar sudah diajarkan bagaimana memperlakukan sampah dengan benar, baik itu memilah dan membuang sampah dan juga memberikan pengetahuan tentang keuntungan dan kerugian tentang sampah. Tidak tanggung-tanggung pula pengenalan lingkungan tersebut sudah dijadikan sebagai muatan sekolah di seluruh sekolah.
Kegagalan Indonesia dalam menanggulangi dampak lingkungan tidak terlepas dari kultur masyarakat Indonesia yang kurang disiplin, hanya segelintir orang saja yang memiliki kepedulian dan komitmen dalam menjaga lingkungan tempat mereka tinggal. Law enforcement mengenai lingkungan juga tidak berjalan secara tegas dan konsisten. Kesan yang muncul kepermukaan adalah kita semua masih setengah hati menjaga kelestarian lingkungan tempat kita tinggal maupun sumber daya alam kita. Dalam masyarakat kita juga sangat kentara sekali kurangnya kepedulian mengenai hal-hal sederhana, seperti halnya membuang sampah tidak pada tempatnya tanpa memilahnya apa itu sampah basah atau kering menjadi suatu hal yang wajar untuk dilakukan.
Akibatnya bisa ditanggung dan dirasakan sendiri oleh masyarakat secara langsung. Sampah menggunung, air sungai menjadi keruh, banyak sekali muncul penyakit, lebih parahnya lagi masyarakat Indonesia mengalami phobia masal akan keberadaan sampah. Dalam benak masyarakat Indonesia sampai saat ini sampah masih menjadi momok yang begitu ditakuti dan mengganggu.
Coba kita ingat kembali kasus TPST Bojong, masyarakat menolak mentah-mentah kehadiran tempat pengelolaan sampah sementara di daerah itu. Hal itu wajar sekali muncul, pasalnya selama ini yang mereka ketahui sampah adalah sesuatu yang bau, tempat dimana segala penyakit berasal dan sangat merugikan mereka. Dan selama ini pengelolaan sampah hanya mandeg sampai menjadi pupuk organik saja.
Pemerintah pusat pun juga terkesan kurang serius mengatasi masalah lingkungan, terbukti alokasi APBN untuk masalah lingkungan hidup sangat minim sekali. Selain kurangnya sosialisasi tentang bagaimana keuntungan dan kerugian dalam pengelolaan lingkungan hidup terutama masalah sampah, pemerintah harus dapat merubah stigma negatif masyarakat terhadap sampah.
Kalau kita memang mau untuk menabuh genderang perang mengenai masalah ini tentunya kita harus dapat mengadopsi keberhasilan negara sakura dalam mengatasi masalah ini, dengan membangun segala infrastruktur penunjang pengelolaan sampah menjadi sampai menjadi berbagai produk yang bermanfaat sehingga sampai dapat memiliki nilai ekonomis bagi mereka.
Hal tersebut sangat diperlukan, karena mungkin dengan cara seperti itu masyarakat kita tidak melihat sampah hanya sebagai momok saja melainkan juga dapat membawa keuntungan. Namun semua itu kembali kepada seluruh komponen di negeri ini, kalau saja kita masih berkutat dengan ketidakdisiplinan dan inkonsistensi masal baik antara pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat dalam memelihara dan memanfaatkan lingkungan dengan baik itu semua tetap akan menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Pilihannya jelas sekali, kita lakukan sedari sekarang atau tidak. Apa kita masih mau menunggu datangnya bencana lagi? Atau, apakah kita setiap hari dapat tertidur pulas sampai mendengkur karena lingkungan hidup kita sehat dan lebih sejahtera banyak mendapatkan uang tambahan dari mengelola sampah. Sungai kita jernih airnya karena bersih dari sampah? Anda pilih yang mana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar