Kamis, 14 Agustus 2008

Think Tank

Halo, salam hangat para pembaca ProVisi dimanapun kini anda berada. Ucap syukur kita panjatkan kepada Sang Khalik karena kita masih bisa mengela nafas dan bersua lagi. Kita tahu bahwa dunia ini sudah semakin berumur dan serasa semakin sempit saja ukurannya. Sejenak kita beromansa, merekonstruksi waktu yang telah berjalan tentang perkembangan dunia kita ini.

Perkembangan dunia telah memunculkan begitu banyak individu-individu dengan otak yang sangat brillian hinggga mampu mengubah bergulirnya perkembangan dunia melalui ilmu pengetahuan dan memiliki pengaruh besar dengan visi-visi kehidupan yang bisa kita katakan sangat jauh kedepan, dengan berbagai tipikal pencapaiannya

Sebut saja Ibnu Sina, seorang filsuf dan cendikia muslim penemu pertama ilmu kedokteran yang sampai sekarang ini masih kita gunakan dalam hal dunia kedokteran dan telah dimanfaatkan oleh dunia sampai keturunan generasi-generasi berikutnya. Menyebrang ke benua Eropa, kita mengenal seorang Socrates, filsuf yunani dengan pemikiran-pemikiran yang bijak nan bisa bermetamorfosa dalam kehidupan manusia sampai sekarang, ataupun Nebukadnezar raja babylon yang makmur dan menjadi pusat kebudayaan termasyur di pada jamanya.

Beranjak ke jaman modern dunia mulai memunculkan tokoh-tokoh yang berpengaruh dengan imajinasi, terawangan-terawangan elegan, maupun penemuan-penemuan revolusioner dan sangat mempengaruhi perkembangan dunia baik dalam aspek sosial, ideologi maupun cultural. Sigmun freud, Albert camus, Thomas alfa Edison, Wright brothers, Albert Einstein, Bill Gates sampai Larry Page dan Sergey Brin “The Google Guys” penemu web machine Google adalah beberapa individu yang mampu mengubah dunia menjadi semakin berwarna sampai seperti sekarang ini.

Perlahan namun pasti, perkembangan dunia membawa pengaruh yang sangat besar sekali, baik itu dalam pembentukan karakter sosial masyarakat dunia, maupun pola perkembangan individu-individu. Banyak sekali implikasi yang muncul dari perkembangan dunia, abad demi abad berlalu, baik yang positif maupun yang negatif. Hal tersebut sangatlah manusiawi dan lazim adanya dan dapat kita jadikan sebagai suatu pembelajaran yang baik.

Beberapa tokoh yang saya sebutkan di atas adalah beberapa cerminan betapa manusia ini diberikan anugerah yang sempurna dari Sang Pencipta dengan otak dan kemampuan untuk berfikir atau melakukan tindakan dengan berfikir. Namun semuanya dikembalikan kepada individu masing-masing, maukah mereka memakksimalkan anugerah yang dimiliki atau hanya dengan mensukuri keberadaanya saja.

Karakter manusia di muka bumi ini sangatlah majemuk, dari berbagai versi para ahli tentang tipe karakter manusia yang saya ketahui, karakter manusia dapat kita indentifikasi secara sederhana menjadi empat tipe karakter, antara lain: yang pertama adalah Guardian. Manusia tipe guardian adalah seorang teman yang baik. Ia juga jenis orang yang selalu mencari dan memberikan rasa aman. Mereka sering mengikuti organisasi yang sifatnya melindungi baik secara materil maupun imateril. Mereka mampu mengendalikan diri dengan baik. Mereka cocok dengan jenis pekerjaan yang berhubungan dengan kemanusiaan. Guardian juga jenis orang yang pesimis memandang masa depan dan seringkali terpengaruh dengan masa lalu.

Karakter manusia yang kedua adalah Artisan. Seorang artisan mampu berkomunikasi dengan baik, mereka anggun dalam bersikap dan berani mencoba. Mereka juga cenderung sensasional dan spontan. Artisan juga senang menghadiri pesta dan selalu optimis memandang masa depan. Sebagai seorang teman, mereka menyenangkan.

Tipe yang ketiga adalah Idealis. Orang idealis mempunyai insting untuk mempersatukan orang-orang di sekitarnya. Sehingga mereka seringkali menjadi pemimpin di lingkungannya. Ia juga jenis yang sangat menjunjung tinggi etika dan moral. Ia juga orang yang sangat percaya kepada instuisinya. Idealis memiliki cita-cita besar dan percaya bahwa ia mampu meraihnya. Ia juga pandai berdiplomasi. Tetapi sering kali berbicara dengan interpretasinya sendiri.

Karakter manusia yang terakhir adalah Rasional. Orang rasional adalah orang yang selalu membutuhkan ilmu pengetahuan. Mereka lebih senang membicarakan masa sekarang daripada masa depan atau masa lalu. Mereka juga jenis orang yang berkemauan kuat. Orang rasional sangat ahli dalam hal analisis strategi, hingga ia cocok untuk memimpin, merencanakan dan mengatur sebuah aksi. Mereka juga jenis orang yang mampu memahami pikiran pasangan.

Dan bila kita telisik lebih dalam lagi, karakter manusia dapat kita golongkan menjadi dua tipe dari sudut pandang pekerjaan apapun jenisnya, yaitu tipe Pemikir dan tipe Pekerja. Nah dalam kaitannya dengan membangun sebuah masyarakat, sebuah bangsa maupun dunia, idealnya sangat perlu sekali kita memiliki sosok pemikir atau “Think Tank” dengan kriteria Peka, Smart, Bijak, Jujur, Kapabel dan Sadar Ruang.

Membangun sesuatu yang perlu kita pikirkan adalah fokus utama dari tujuan dari pembangunan itu sendiri, yaitu khalayak atau masyarakat. Sejauh mana suatu pembangunan memenuhi kaidah-kaidah pokok kebutuhan fundamental manusia serta dapat menunjang kelangsungan hidup manusia, bukan malah sebaliknya. Fungsi seorang “Think tank” dalam hal ini sangat diperlukan untuk memikirkan, menimbang, merencanakan dan memutuskan metode, program maupun formula terbaik pembangunan yang tentunya pembangunan berkelanjutan.

Bangsa kita Indonesia adalah bangsa archipelago yang besar dan sangat kaya keragaman manusia. Para Founding Father bangsa kita, seperti Dr. Sutomo, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Hatta serta pahlawan lainya adalah sosok-sosok para “Think Tank” yang visioner dan harus kita teladani, pemikiran dan perjuangan hati nurani mereka dalam membangun negeri seribu warna budaya dan manusia menuju aufklarung. Negeri ini butuh “Think Tank-Think Tank” masa kini sesai bidang dan kemampuanya, untuk meretas kejayaan bangsa Indonesia yang lebih baik. Apakah “Think Tank” itu anda?


@Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah ProVisi

www.provisi.probolinggo.go.id

Kamis, 06 Maret 2008

Mal Nutrisi Bumi

Moyangku dahulu selalu berwasiat kepada cucu, cicitnya turun temurun. “wahai, cucuku, janganlah engkau sesekali memetik ranting di pohon tua itu, karena dialah yang akan memberikan kehidupan padamu dan keturunanmu kelak", begitu pungkasnya. Makna filosofis yang terkandung dalam wasiat moyangku itu sangat jelas sekali, bahwa pada hakekatnya kita sebagai manusia hendaknya menghargai apa yang telah diberikan Tuhan di bumi ini, dan untuk itu kita tidak bijak jika memberangus segala ciptaan-NYA, akan tetapi harus menjaga dan melestarikan keberadaanya.
Namun, lambat laun wasiat itu sudah mulai hangus menguap di udara. tak pernah sekali terdengar petuah-petuah bijak yang mampu mengetuk bathin manusia untuk senantiasa sadar akan ruang mereka hidup. menghargai ruang tempat mereka hidup, ruang tempat mereka bernafas, ruang manusia untuk berinteraksi, ruang mereka untuk menerima cahaya mentari pagi, yaitu bumi ini.
Konsep hidup yang berangkat dari nilai keseimbangan yang seharusnya menjadi acuan utama manusia di muka bumi ini dalam hakekat kehidupan, tidak diindahkan sama sekali. Manusia modern memiliki karakter berbirahi tinggi sekali, dalam hal keangkuhan maupun dalam hal menguasai, baik itu antar sesama manusia, mahluk hidup yang lain, apa lagi dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Bumi kita yang semakin tua ini seharusnya kita perlakukan dengan lebih. karena bumu adalah salah satunya tempat hidup bagi manusia, masih belum ada planet lain yang bisa dan layak untuk ditinggali manusia. namun bagai mana perlakuan manusia terhadap bumu sampai dekade ini? nihil alias nonsense. terus saja setiap hari manusia mengeksploitasi bumi secara sporadis, atas nama pembangunan teknologi millenium, pembangunan perekonomian abad 21 maupun atas dasar kekuasaan.
Manusia modern, sering kali memiliki perangai buruk dalam melakukan sesuatu. Lempar batu sembunyi tangan, misalnya sampah teknologi yang mereka buat di negara mereka, tatkala suah menjadi barang usang atau sudah menjadi sampah, akan segera di alihkan kenegara yang lain. dengan alasan negara lain membutuhkan materi bahan tersebut untuk dijadikan bahan baku barang lain. ekspor impor limbah kini sering kita temui baik di indonesia maupun negara lain. parahnya ekspor maupun impor limbah tersebut pernah diketahui berizin alias legal.
Kalau boleh jujur bumi in sudah semakin rapuh dan lapuk. Entah manusia sudah menyadarinya apa belum, fakta membuktikan jika bumi ini sedang mengalami masa-masa kritis. Jika saya analogikan bumi ini sedang mengalami stroke stadium tiga, setahap lagi berubah menjadi stadium empat dan mengalami stagnasi global. Ibarat manusia yang diperas habis keringatnya dari balita sampai lanjut usia, tanpa diberikan masa-masa rehat, suplemen yang cukup memadai dan waktu untuk menghela nafas.
Itu saja masih belum cukup, nutrisi yang seharusnya diterima bumi ini adalah nutrisi yang super untuk menjaga apa yang ada diatasnya lestari, malah tidak sama ada sama sekali. Nutrisi yang diterima bumi kita selama ini adalah nutrisi sampah atau juga racun, seperti halnya junk food yang setiap harinya dijejalkan kedalam perut bumi. Jikalau kondisi ini terus menerus terjadi, ramalan saya akan terjadinya stagnasi global akan segera saja terwujud. dan niscaya apa yang kita dalam film armageddon besutan sutradara kondang Michael Bay bisa saja terjadi.
Virus modernisasi dan revolusi energi sekarang ini memang memiliki plus dan minus. Hal yang mengerikan adalah jika kita tidak bisa berlaku wise terhadap modernisasi itu sendiri. coba kita llihat negara-negara adikuasa sekarang ini, mereka sudah tidak lagi mau menengok kanan kiri dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap bumi ini semisal dalam konteks lingkungan hidup dan pengelolaan energi. Asal kebutuhan mereka terpenuhi dan negara lain masih bisa dikibuli, tetap saja mereka berjalan lempeng tutup mata tutup telinga.
UNCCC yang telah berlangsung di Bali desember tahun lalu bisa saya katakan mandul alias tidak berhasil mencapai substansi utamanya. Kenapa begitu, karena negara-negara besar seperti amerika tidak mau menyepakati poin yang paling mendasar dan mungkin sangat ditunggu-tunggu oleh banyak negara lain, yaitu pengurangan emisi karbon minimal 30%. Padahal para negara adidaya itu adalah penghasil emisi karbon paling banyak di dunia, alih-alih nantinya jelas negara-negara berkembanglah yang akan memanen hasilnya.
Bukan itu saja, negara berkembang diposisikan menjadi cleaning service dan negara pencari dana bagi penyelamatan perubahan iklim dunia ulah negara adidaya. Bagaimana tidak, mereka (negara adidaya.Red) dengan enaknya menghasilkan berjuta-juta metric ton emisi ke udara setiap harinya, malah negara berkembanglah yang tergopoh-gopoh mengeluarkan begitu besar biaya dan berpikir keras untuk menyelamatkan nasib bumi yang teracuni dengan berbagai cara.
Belum lagi kita pernah diingatkan oleh pemecahan rekor dunia pada tahun 2003 silam, bukan sekedar rekor biasa pada tahun itu lubang yang menganga pada lapisan ozon bumi ini sudah mencapai 29 juta kilometer persegi luasnya. Menakjubkan bukan, sekaligus bisa membikin bulukuduk kita berdiri, pasalnya diperkirakan lubang ozon itu akan bertambah lebar setiap minggunya kurang lebih 1 kilometer persegi. Bayangkan bertambah berapa lebarnya sampai dengan tahun 2008 ini. Sungguh mengerikan!
Efek rumah kaca yang timbul karena ulah manusia kini sangat terasa sekali akibatnya. Bencana datang silih berganti, cuaca sangat sukar sekali untuk dapat diprediksi. Bumi yang tua ini sudah mulai rapuh, badannya sudah mulai berangsur-angsur demam tinggi sekali. Akan bahaya sekali jika bumi ini dibiarkan demam tak henti-henti dan semakin meninggi.
Apalagi kalau salah mendiagnosa dengan memberinya nutrisi yang salah, seperti CO2, N2O, dan CH4. CO2 yang umumnya dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (batubara, BBM, dan gas) di berbagai sektor (industri, transportasi, dan rumah tangga). Kebakaran hutan penghasil CO2 yang sangat besar. CH4 yang umumnya dihasilkan dari timbunan sampah, perubahan tata guna lahan dan kehutanan, pertanian, dan sektor energi dan N2O umumnya dihasilkan dari sektor pertanian (pemanfaatan pupuk dan praktek pertanian).
Manusia bak seorang anak atau seorang dokter yang harus selalu menjaga dan merawat ibunya yang sudah semakin tua, yaitu ibu bumi. Kalau kita lupa atau kalau kita lalai menjaganya (Bumi.red) seperti kelalaian salah memberi nutrisi kepada sang ibu, hingga sampai menimbulkan kematian sang ibu, kitalah manusialah yang patut untuk disalahkan.
Apa konsekuensinya? Jelas kita akan diberi hukuman. Hukuman seperti apa? Anda semua sudah bisa menebak kan? Malfungsi bumi pasti akan mendera kita. Apa jadinya jika sinar matahari tanpa tedeng aling-aling merangsek masuk ke bumi? Apajadinya, jika sumur-sumur kita berisi berliter-liter debu? Apajadinya jika tanaman yang kita tanam tumbuh kerdil? Apajadinya, apajadinya dan masih banya lagi yang lain.
Semoga memang saya ini hanya orang yang benar-benar paranoid, maksudnya semua pemikiran-pemikiran saya salah dan hal itu tidak terjadi. Semoga bumi yang saya cinta ini tidak segera menemui titik nadirnya. Saya ingin kelak cucu cicit saya masih bisa merasakan keberadaan bumi yang saya huni sekarang ini. SAVE THE WORLD NOW!


@Penulis adalah redaktur pelaksana Majalah ProVisi