“Olee.. olee.. olee... Celebrate the day!,” teriak para penggila bola dari seluruh penjuru dunia yang tengah tumplek blek di negeri orang Aria Jerman untuk menyaksikan, sekaligus memberikan dukungan pada negaranya masing-masing. Warna-warni costum yang dikenakan oleh para supporter dari berbagi negara, termasuk bendera dan pernak-pernik aksesorisnya menambah semarak suasana disana.
Ya...itulah World Cup, event olahraga empat tahunan terakbar di bumi ini yang selalu mencuri perhatian berbagai kalangan, baik itu pria, wanita, tua, muda sampai anak-anak sekalipun. Selama sebulan penuh mata kita tergelisik untuk bisa terus mengikutinya dari hari ke hari. Khususnya para penggila bola dikawasan Asia, sudah barang tentu harus merelakan sebagaian waktu istirahatnya untuk bisa mengikuti seluruh pertandingan dari babak penyisihan sampai final. Karena memang kita berada dibelahan lain dunia yang terpaut sekitar lima jam dengan waktu Deutchland (Jerman.red).
Pertarungan dunia yang akhirnya menobatkan Italia sebagai championi el mundo alias juara dunia sepak bola 2006, membuat seluruh penggila bola, khususnya di Indonesia berdecak kagum atas keberhasilan Italia memboyong supremasi tertinggi persepakbolaan dunia itu menuju negeri tim Azzurri. Tetapi, kita juga tidak harus menutup mata kita untuk memberikan apresiasi yang baik bagi tuan rumah Jerman yang berhasil menyelenggarakannya dengan sangat baik dan penuh kesan.
Keberhasilan Jerman dalam melaksanakan event terbesar sepakbola itu, tentunya tidak serta merta akan bisa dicapai tanpa adanya profesionalitas dan pengalaman Jerman dalam me-manage event tersebut. Dengan menyediakan berbagai hal yang mendukung event sejagat itu, seperti penginapan bagi para pemain dan penonton piala dunia, mercandise- mercandise piala dunia, transportasi, akses komunikasi, sampai maaf, bisnis prostitusi. Tak hanya itu penonton juga dimanjakan dengan berbagai pelayanan mudah nan menarik dalam menikmati pertandingan.
Snack, soft drink dan makanan berat sesuai dengan menu masakan yang sengaja didatangkan dari berbagai negara, khususnya negara peserta piala dunia. Penonton memang sangat dimanjakan dengan pelayanan layaknya hotel berbintang lima. Stadion sebagai One Stop Shopping, segala kebutuhan penonton bisa tercukupi tanpa harus meninggalkan stadion pertandingan. Satu yang mungkin belum tersedia disana, yaitu nasi pecel karena Indonesia masih belum beruntung untuk menjadi kandidat peserta piala dunia 2006.
Hasilnya, Jerman meraup berjuta-juta Poundsterling keuntungan dari World Cup 2006 besutannya. Waah …. gile beneer. Jumlah uang sebanyak itu tentunya sangat menguntungkan sekali. Alih-alih, mungkin bisa untuk mengurangi inflasi dan mengurangi utang luar negeri negara kita yang semakin bejibun menjerat leher.
Memang harus kita akui sepak bola di daratan Eropa, Amerika Latin, Afrika dan sebagian negara Asia memiliki sistem managerial yang profesional dibarengi disiplin yang tinggi, baik itu managemen klub ataupun pemainnya. Oleh karena itu, disana bisnis sepak bola bisa dijadikan lahan berinvestasi yang sangat menguntungkan, karena bisa mendatangkan banyak sekali keuntungan.
“Bisa nggak ya di Indonesia?”. Siapapun orang di Indonesia akan susah untuk bisa menjawabnya. Hendaknya momentum piala dunia yang baru saja tamat itu bisa kita jadikan tempat berkaca dan bahan acuan bagi kita orang Indonesia, khususnya bagi mereka yang concern dengan masalah persepakbolaan di negeri ini. Bagaimana mereka me-manage klubnya, bagaimana dukungan serta apresiasi para penontonnya, dan bagaimana mereka menjadikan bisnis Si Kulit Bundar ini bisa tetap exist dan semakin baik tiap tahunnya.
Kalau boleh flashback ke jaman baheula’. Orang Indonesia masih banyak yang belum tau, kalau pada sekitar tahun 1830an Indonesia pada waktu itu bernama Hindia Belanda di masa kolonialisme, mampu menembus perhelatan sepak bola Julies Rimet Cup, alias piala dunia tempoe’ doeloe’ melawan CCCP atau Russia. Jadilah Indonesia sebagai negara asia pertama dalam sejarah yang mampu masuk piala dunia. Hebat bukan..?
Moyang kita ternyata juga orang hebat sama dengan mereka yang masuk World Cup 2006, dan kita boleh bangga karenanya. Namun, terlalu naif sekali jika kita hanya bisa menjadi penonton World Cup selamanya. Spirit of Football yang ternyata sedari dulu sudah kita miliki harusnya di jadikan sebagai titik tolak untuk memperbaiki persepakbolaan di Indonesia. Mulai dari klub-klub kecil di daerah, sampai Timnas kita sebagai ujung tombak si’ar kemajuan sepakbola Indonesia.
Saya yakin nantinya investasi “Si Kulit Bundar” di Indonesia bila di-manage layaknya AC. Milan, Arsenal ataupun seperti tetangga Asia kita Jepang, akan menjadi salah satu alternatif berinvestasi yang sangat menarik bagi siapapun. Siapa tau juga, jika iklim persepakbolaan di Indonesia semakin membaik akan melahirkan pemain yang berkualitas, just like Diego Maradona versi Indonesia.
Semoga wacana ini tidak sekedar menjadi wacana usang yang lewat begitu saja. Kita harus selalu melecutkan cambuk pengalaman yang ada untuk terus belajar dan memperbaiki segala kekurangan agar mereka yang ada di belahan lain dunia ini tidak lagi memicingkan matanya dengan persepakbolaan Indonesia. Viva Indonesia!
*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah Provisi
Sabtu, 17 November 2007
Langganan:
Postingan (Atom)