Kamis, 14 Agustus 2008

Think Tank

Halo, salam hangat para pembaca ProVisi dimanapun kini anda berada. Ucap syukur kita panjatkan kepada Sang Khalik karena kita masih bisa mengela nafas dan bersua lagi. Kita tahu bahwa dunia ini sudah semakin berumur dan serasa semakin sempit saja ukurannya. Sejenak kita beromansa, merekonstruksi waktu yang telah berjalan tentang perkembangan dunia kita ini.

Perkembangan dunia telah memunculkan begitu banyak individu-individu dengan otak yang sangat brillian hinggga mampu mengubah bergulirnya perkembangan dunia melalui ilmu pengetahuan dan memiliki pengaruh besar dengan visi-visi kehidupan yang bisa kita katakan sangat jauh kedepan, dengan berbagai tipikal pencapaiannya

Sebut saja Ibnu Sina, seorang filsuf dan cendikia muslim penemu pertama ilmu kedokteran yang sampai sekarang ini masih kita gunakan dalam hal dunia kedokteran dan telah dimanfaatkan oleh dunia sampai keturunan generasi-generasi berikutnya. Menyebrang ke benua Eropa, kita mengenal seorang Socrates, filsuf yunani dengan pemikiran-pemikiran yang bijak nan bisa bermetamorfosa dalam kehidupan manusia sampai sekarang, ataupun Nebukadnezar raja babylon yang makmur dan menjadi pusat kebudayaan termasyur di pada jamanya.

Beranjak ke jaman modern dunia mulai memunculkan tokoh-tokoh yang berpengaruh dengan imajinasi, terawangan-terawangan elegan, maupun penemuan-penemuan revolusioner dan sangat mempengaruhi perkembangan dunia baik dalam aspek sosial, ideologi maupun cultural. Sigmun freud, Albert camus, Thomas alfa Edison, Wright brothers, Albert Einstein, Bill Gates sampai Larry Page dan Sergey Brin “The Google Guys” penemu web machine Google adalah beberapa individu yang mampu mengubah dunia menjadi semakin berwarna sampai seperti sekarang ini.

Perlahan namun pasti, perkembangan dunia membawa pengaruh yang sangat besar sekali, baik itu dalam pembentukan karakter sosial masyarakat dunia, maupun pola perkembangan individu-individu. Banyak sekali implikasi yang muncul dari perkembangan dunia, abad demi abad berlalu, baik yang positif maupun yang negatif. Hal tersebut sangatlah manusiawi dan lazim adanya dan dapat kita jadikan sebagai suatu pembelajaran yang baik.

Beberapa tokoh yang saya sebutkan di atas adalah beberapa cerminan betapa manusia ini diberikan anugerah yang sempurna dari Sang Pencipta dengan otak dan kemampuan untuk berfikir atau melakukan tindakan dengan berfikir. Namun semuanya dikembalikan kepada individu masing-masing, maukah mereka memakksimalkan anugerah yang dimiliki atau hanya dengan mensukuri keberadaanya saja.

Karakter manusia di muka bumi ini sangatlah majemuk, dari berbagai versi para ahli tentang tipe karakter manusia yang saya ketahui, karakter manusia dapat kita indentifikasi secara sederhana menjadi empat tipe karakter, antara lain: yang pertama adalah Guardian. Manusia tipe guardian adalah seorang teman yang baik. Ia juga jenis orang yang selalu mencari dan memberikan rasa aman. Mereka sering mengikuti organisasi yang sifatnya melindungi baik secara materil maupun imateril. Mereka mampu mengendalikan diri dengan baik. Mereka cocok dengan jenis pekerjaan yang berhubungan dengan kemanusiaan. Guardian juga jenis orang yang pesimis memandang masa depan dan seringkali terpengaruh dengan masa lalu.

Karakter manusia yang kedua adalah Artisan. Seorang artisan mampu berkomunikasi dengan baik, mereka anggun dalam bersikap dan berani mencoba. Mereka juga cenderung sensasional dan spontan. Artisan juga senang menghadiri pesta dan selalu optimis memandang masa depan. Sebagai seorang teman, mereka menyenangkan.

Tipe yang ketiga adalah Idealis. Orang idealis mempunyai insting untuk mempersatukan orang-orang di sekitarnya. Sehingga mereka seringkali menjadi pemimpin di lingkungannya. Ia juga jenis yang sangat menjunjung tinggi etika dan moral. Ia juga orang yang sangat percaya kepada instuisinya. Idealis memiliki cita-cita besar dan percaya bahwa ia mampu meraihnya. Ia juga pandai berdiplomasi. Tetapi sering kali berbicara dengan interpretasinya sendiri.

Karakter manusia yang terakhir adalah Rasional. Orang rasional adalah orang yang selalu membutuhkan ilmu pengetahuan. Mereka lebih senang membicarakan masa sekarang daripada masa depan atau masa lalu. Mereka juga jenis orang yang berkemauan kuat. Orang rasional sangat ahli dalam hal analisis strategi, hingga ia cocok untuk memimpin, merencanakan dan mengatur sebuah aksi. Mereka juga jenis orang yang mampu memahami pikiran pasangan.

Dan bila kita telisik lebih dalam lagi, karakter manusia dapat kita golongkan menjadi dua tipe dari sudut pandang pekerjaan apapun jenisnya, yaitu tipe Pemikir dan tipe Pekerja. Nah dalam kaitannya dengan membangun sebuah masyarakat, sebuah bangsa maupun dunia, idealnya sangat perlu sekali kita memiliki sosok pemikir atau “Think Tank” dengan kriteria Peka, Smart, Bijak, Jujur, Kapabel dan Sadar Ruang.

Membangun sesuatu yang perlu kita pikirkan adalah fokus utama dari tujuan dari pembangunan itu sendiri, yaitu khalayak atau masyarakat. Sejauh mana suatu pembangunan memenuhi kaidah-kaidah pokok kebutuhan fundamental manusia serta dapat menunjang kelangsungan hidup manusia, bukan malah sebaliknya. Fungsi seorang “Think tank” dalam hal ini sangat diperlukan untuk memikirkan, menimbang, merencanakan dan memutuskan metode, program maupun formula terbaik pembangunan yang tentunya pembangunan berkelanjutan.

Bangsa kita Indonesia adalah bangsa archipelago yang besar dan sangat kaya keragaman manusia. Para Founding Father bangsa kita, seperti Dr. Sutomo, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Hatta serta pahlawan lainya adalah sosok-sosok para “Think Tank” yang visioner dan harus kita teladani, pemikiran dan perjuangan hati nurani mereka dalam membangun negeri seribu warna budaya dan manusia menuju aufklarung. Negeri ini butuh “Think Tank-Think Tank” masa kini sesai bidang dan kemampuanya, untuk meretas kejayaan bangsa Indonesia yang lebih baik. Apakah “Think Tank” itu anda?


@Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah ProVisi

www.provisi.probolinggo.go.id

Kamis, 06 Maret 2008

Mal Nutrisi Bumi

Moyangku dahulu selalu berwasiat kepada cucu, cicitnya turun temurun. “wahai, cucuku, janganlah engkau sesekali memetik ranting di pohon tua itu, karena dialah yang akan memberikan kehidupan padamu dan keturunanmu kelak", begitu pungkasnya. Makna filosofis yang terkandung dalam wasiat moyangku itu sangat jelas sekali, bahwa pada hakekatnya kita sebagai manusia hendaknya menghargai apa yang telah diberikan Tuhan di bumi ini, dan untuk itu kita tidak bijak jika memberangus segala ciptaan-NYA, akan tetapi harus menjaga dan melestarikan keberadaanya.
Namun, lambat laun wasiat itu sudah mulai hangus menguap di udara. tak pernah sekali terdengar petuah-petuah bijak yang mampu mengetuk bathin manusia untuk senantiasa sadar akan ruang mereka hidup. menghargai ruang tempat mereka hidup, ruang tempat mereka bernafas, ruang manusia untuk berinteraksi, ruang mereka untuk menerima cahaya mentari pagi, yaitu bumi ini.
Konsep hidup yang berangkat dari nilai keseimbangan yang seharusnya menjadi acuan utama manusia di muka bumi ini dalam hakekat kehidupan, tidak diindahkan sama sekali. Manusia modern memiliki karakter berbirahi tinggi sekali, dalam hal keangkuhan maupun dalam hal menguasai, baik itu antar sesama manusia, mahluk hidup yang lain, apa lagi dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Bumi kita yang semakin tua ini seharusnya kita perlakukan dengan lebih. karena bumu adalah salah satunya tempat hidup bagi manusia, masih belum ada planet lain yang bisa dan layak untuk ditinggali manusia. namun bagai mana perlakuan manusia terhadap bumu sampai dekade ini? nihil alias nonsense. terus saja setiap hari manusia mengeksploitasi bumi secara sporadis, atas nama pembangunan teknologi millenium, pembangunan perekonomian abad 21 maupun atas dasar kekuasaan.
Manusia modern, sering kali memiliki perangai buruk dalam melakukan sesuatu. Lempar batu sembunyi tangan, misalnya sampah teknologi yang mereka buat di negara mereka, tatkala suah menjadi barang usang atau sudah menjadi sampah, akan segera di alihkan kenegara yang lain. dengan alasan negara lain membutuhkan materi bahan tersebut untuk dijadikan bahan baku barang lain. ekspor impor limbah kini sering kita temui baik di indonesia maupun negara lain. parahnya ekspor maupun impor limbah tersebut pernah diketahui berizin alias legal.
Kalau boleh jujur bumi in sudah semakin rapuh dan lapuk. Entah manusia sudah menyadarinya apa belum, fakta membuktikan jika bumi ini sedang mengalami masa-masa kritis. Jika saya analogikan bumi ini sedang mengalami stroke stadium tiga, setahap lagi berubah menjadi stadium empat dan mengalami stagnasi global. Ibarat manusia yang diperas habis keringatnya dari balita sampai lanjut usia, tanpa diberikan masa-masa rehat, suplemen yang cukup memadai dan waktu untuk menghela nafas.
Itu saja masih belum cukup, nutrisi yang seharusnya diterima bumi ini adalah nutrisi yang super untuk menjaga apa yang ada diatasnya lestari, malah tidak sama ada sama sekali. Nutrisi yang diterima bumi kita selama ini adalah nutrisi sampah atau juga racun, seperti halnya junk food yang setiap harinya dijejalkan kedalam perut bumi. Jikalau kondisi ini terus menerus terjadi, ramalan saya akan terjadinya stagnasi global akan segera saja terwujud. dan niscaya apa yang kita dalam film armageddon besutan sutradara kondang Michael Bay bisa saja terjadi.
Virus modernisasi dan revolusi energi sekarang ini memang memiliki plus dan minus. Hal yang mengerikan adalah jika kita tidak bisa berlaku wise terhadap modernisasi itu sendiri. coba kita llihat negara-negara adikuasa sekarang ini, mereka sudah tidak lagi mau menengok kanan kiri dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap bumi ini semisal dalam konteks lingkungan hidup dan pengelolaan energi. Asal kebutuhan mereka terpenuhi dan negara lain masih bisa dikibuli, tetap saja mereka berjalan lempeng tutup mata tutup telinga.
UNCCC yang telah berlangsung di Bali desember tahun lalu bisa saya katakan mandul alias tidak berhasil mencapai substansi utamanya. Kenapa begitu, karena negara-negara besar seperti amerika tidak mau menyepakati poin yang paling mendasar dan mungkin sangat ditunggu-tunggu oleh banyak negara lain, yaitu pengurangan emisi karbon minimal 30%. Padahal para negara adidaya itu adalah penghasil emisi karbon paling banyak di dunia, alih-alih nantinya jelas negara-negara berkembanglah yang akan memanen hasilnya.
Bukan itu saja, negara berkembang diposisikan menjadi cleaning service dan negara pencari dana bagi penyelamatan perubahan iklim dunia ulah negara adidaya. Bagaimana tidak, mereka (negara adidaya.Red) dengan enaknya menghasilkan berjuta-juta metric ton emisi ke udara setiap harinya, malah negara berkembanglah yang tergopoh-gopoh mengeluarkan begitu besar biaya dan berpikir keras untuk menyelamatkan nasib bumi yang teracuni dengan berbagai cara.
Belum lagi kita pernah diingatkan oleh pemecahan rekor dunia pada tahun 2003 silam, bukan sekedar rekor biasa pada tahun itu lubang yang menganga pada lapisan ozon bumi ini sudah mencapai 29 juta kilometer persegi luasnya. Menakjubkan bukan, sekaligus bisa membikin bulukuduk kita berdiri, pasalnya diperkirakan lubang ozon itu akan bertambah lebar setiap minggunya kurang lebih 1 kilometer persegi. Bayangkan bertambah berapa lebarnya sampai dengan tahun 2008 ini. Sungguh mengerikan!
Efek rumah kaca yang timbul karena ulah manusia kini sangat terasa sekali akibatnya. Bencana datang silih berganti, cuaca sangat sukar sekali untuk dapat diprediksi. Bumi yang tua ini sudah mulai rapuh, badannya sudah mulai berangsur-angsur demam tinggi sekali. Akan bahaya sekali jika bumi ini dibiarkan demam tak henti-henti dan semakin meninggi.
Apalagi kalau salah mendiagnosa dengan memberinya nutrisi yang salah, seperti CO2, N2O, dan CH4. CO2 yang umumnya dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (batubara, BBM, dan gas) di berbagai sektor (industri, transportasi, dan rumah tangga). Kebakaran hutan penghasil CO2 yang sangat besar. CH4 yang umumnya dihasilkan dari timbunan sampah, perubahan tata guna lahan dan kehutanan, pertanian, dan sektor energi dan N2O umumnya dihasilkan dari sektor pertanian (pemanfaatan pupuk dan praktek pertanian).
Manusia bak seorang anak atau seorang dokter yang harus selalu menjaga dan merawat ibunya yang sudah semakin tua, yaitu ibu bumi. Kalau kita lupa atau kalau kita lalai menjaganya (Bumi.red) seperti kelalaian salah memberi nutrisi kepada sang ibu, hingga sampai menimbulkan kematian sang ibu, kitalah manusialah yang patut untuk disalahkan.
Apa konsekuensinya? Jelas kita akan diberi hukuman. Hukuman seperti apa? Anda semua sudah bisa menebak kan? Malfungsi bumi pasti akan mendera kita. Apa jadinya jika sinar matahari tanpa tedeng aling-aling merangsek masuk ke bumi? Apajadinya, jika sumur-sumur kita berisi berliter-liter debu? Apajadinya jika tanaman yang kita tanam tumbuh kerdil? Apajadinya, apajadinya dan masih banya lagi yang lain.
Semoga memang saya ini hanya orang yang benar-benar paranoid, maksudnya semua pemikiran-pemikiran saya salah dan hal itu tidak terjadi. Semoga bumi yang saya cinta ini tidak segera menemui titik nadirnya. Saya ingin kelak cucu cicit saya masih bisa merasakan keberadaan bumi yang saya huni sekarang ini. SAVE THE WORLD NOW!


@Penulis adalah redaktur pelaksana Majalah ProVisi

Kamis, 20 Desember 2007

Lautku Nasibmu Kini

Indonesia merupakan negara kepulauan dari sabang sampai merauke, yang memiliki wilayah laut yang cukup luas, yakni diperkirakan sebesar 5.8 juta km2 dengan garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508. luar bisa bgeri dengan beribu pulau dan khasanah budaya yang majemuk.
Namun apa yang terjadi, dengan tersedianya sumberdaya yang sebanyak itu kita, terutama penduduk pesisir indonesia yang nota bene adalah nelayan, petani tambak dan budidaya. Belum lagi kita berbicara tentang pariwisata laut indonesia yang seabreg. Begitupun bila kita tinjau dari sisi strategis, Indonesia memiliki selat malaka yang sangat terkenal dengan jalur perairan tersibuk di dunia, yang memiliki potensi sangat besar dalam mendatangkan pendapatan bagi negara dari segi transportasi kelautan dan beacukai barang.
Namun apa yang bisa kita lihat, kita selalu terpecundangi dalam hal kelautan, selalu saja ikan kita di ambil oleh nelayan asing. Pulau-pulau sampai budaya khas kita diambil oleh negara tetangga kita negara Malay yang mengaku-ngaku sebagai negara serumpun dengan Indonesia. Luas wilayah laut kita pun juga tak luput dari penjajahan era baru dari negara tetangga kita. Lihat saja sekarang wilayah daratan negara tetangga kita singapura bertambah secara siknifikan, dan bermunculan menjadi casino dan tempat-tempat yang bernilai cukup wah harganya.
Tapi di lain pihak siapa yang sangat dirugikan? ya bangsa kita Indonesia, ketika singapura mulai unjuk gigi karena wilayah daratanya semakin luas hingga mengurangi wilayah perairan negeri kita di selat malaka, mirisnya banyak sekali pulau-pulau kita tenggelam karena pasir-pasir lautnya diangkut semua ke negeri singa. Dan yang tak kalah menggeramkan lagi pasir-pasir tersebut dijual dengan harga sangat murah sekali, dibawah satndart harga internasional. Lagi-lagi negriku dipecundangi tetangga dekatnya.
Yang tak kalah tragisnya lagi nelayan-nelayan kita tetap saja tidak memiliki bargain yang siknifikan dalam pendapatan mereka. Selama bertahun-tahun memanfaatkan sumberdaya kelautan, ilmu mereka juga bisa kita katakan masih cetek dalam managemen kelautan mereka, apalagi dalam hal teknologi. Sementara nelayan dari negara lain yang sering kali masuk perairan Indonesia untuk nyolong ikan kita menggunakan global positioning system (GPS) untuk menetukan kemana arah mereka berburu ikan, nelayan kita masih mengandalkan tanda-tanda alam untuk memulai perburuan.
Sekali lagi negeri ini sebetulnya negeri yang kaya raya di sumberdaya kelautan, namun di dalamnya banyak sekali orang yang malas untuk belajar dan enggan untuk terus mengasah kemampuan khususnya dalam berbagai aspek kelautan. Kurang adanya prioritas pembangunan di sektor kelautan menambah berat upaya untuk menggali potensi didalamnya. Padahal sebetulnya sumberdaya kelautan merupakan aset besar yang dimiliki bangsa ini, selain itu perlu juga untuk di lestarikan, bukan malah di kotori dan di rusak.
Sering kita lihat dan kita dengar nelayan kita menggunakan bom ikan dan jaring pukat harimau untuk menangkap ikan, apa jadinya? terumbu karang kita rusak, ikan-ikan kecil yang semestinya harus dibiarkan hidup mati dan terjaring pukat harimau. Hasilnya, hasil tangkapan nelayan sedikit-demi sedikit mulai menurun, karena habitat ikan rusak, tidak ada plangton yang bisa dijadikan makanan ikan.
Dalam segi pengolahan hasil perikanan, ikan-ikan kita deberi bandrol sangat murah sekali di pasaran luar negeri. Alibi mereka ikan kita sudah agak kusam, ukuranya tidak sama, kuota yang dibutuhkan selalu tidak terpenuhi standart kelayakannya. Tetapi itu juga ada benarnya, kalau kita lihat lebih cermat lagi, pengolahan hasil perikanan laut kita lemah dalam hal packaging, marketing dan labeling.
Kalau kita melongok sedikit ke daerah perbatasan Indonesia dan malay, di sekitar wilayah nunukan kalimantan, nelayan kita lebih memilih untuk menjual hasil tangkapan ikan mereka ke malay karena harganya lebih baik dan tidak akan ada yang tersisa dan membusuk. Apa sebabnya? Hal itu terjadi selain karena harga yang diperoleh nelayan dari hasil mereka melaut sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan mereka sehari-hari.
Lebih-lebih yang sangat menggelikan lagi di daerah nunukan sampai tahun 2007 ini masih belum tersedia pabrik es yang sangat dibutuhkan nelayan-nelayan setempat untuk mendinginkan hasil tangkapanya. Anehkan? sangat ironis sekali, wilayah yang terkenal dengan sumber ikan yang melimpah seperti hanya di wilayah perairan nunukan tersebut para nelayannya setiap hari kebingungan karena takut ikan-ikanya membusuk dan tak laku dijual kepasar.
Di sisi lain, lihat saja pelabuhan-pelabuhan kita yang tetap saja mandeg berstandart sebagai pelabuhan nasional, dengan berlikunya birokrasi, kumuhnya lokasi pelabuhan, minimnya sarana dan prasarana penunjang di dalamnya. Apa, jadinya? Kapal-kapal asing enggan bersandar di pelabuhan Indonesia, mereka mereka lebih memiliki bersandar di malay atau singapore. Karena mereka merasa disana mereka aman, terpenuhi segala kebutuhannya dan gampang sekali birokrasinya.
Masih banyak lagi potensi kelautan yang belum tergarap dengan sungguh-sungguh. Dari segi pariwisata, masih banya terjadi konflik kepentingan yang menyebabkan pembangunan dalam aspek tersebut terbengkalai alias mangkarak. Dari segi pertanian laut, seperti petani rumput laut juga masih belum bisa memenuhi kuota ekspor yang dibutuhkan. Selau cara budidaya yang kelewat kuno, hal lain juga dikarenakan, mereka kebingungan dalam hal permodalan dan pemasaran, selalu saja mereka bertemu dengan para tengkulak yang selalu merugikan mereka.
Laut beserta isinya harus kita lestarikan. Sedikit demi sedikit kita harus menyadarkan seluruh komponen bangsa indonesia, baik itu pemerintah, masyarakat, pihak swasta untuk memanfaatkan laut dengan searif-arifnya. Mulailah untuk tidak hanya mengeksploitasi dan mengeksploitasi saja, dengan tidak mengindahkan keberlangsungan hidup ekosistem laut di dalamnya. Semoga segera kita semua melek mata bahwa laut sangat berharga sekali bagi kita orang Indonesia.

@ Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah ProVisi

Sabtu, 17 November 2007

Investasi SI Kulit Bundar

“Olee.. olee.. olee... Celebrate the day!,” te­riak para penggila bola dari se­luruh pen­juru dunia yang tengah tum­plek blek di negeri orang Aria Jerman untuk menyaksikan, se­kaligus mem­berikan dukungan pada ne­garanya ma­sing-masing. Warna-warni cos­tum yang dikenakan oleh para sup­porter dari ber­bagi negara, termasuk ben­de­ra dan per­nak-pernik aksesorisnya me­nambah semarak suasana disana.
Ya...itulah World Cup, event olahraga em­pat tahunan terakbar di bumi ini yang se­lalu mencuri perhatian berbagai ka­la­ngan, baik itu pria, wanita, tua, muda sam­pai anak-anak sekalipun. Selama sebulan pe­nuh mata kita tergelisik untuk bisa te­rus mengikutinya dari hari ke hari. Khu­sus­nya para penggila bola dikawasan A­s­ia, sudah barang tentu harus merelakan se­bagaian waktu istirahatnya untuk bisa mengikuti seluruh per­tandingan dari babak penyisihan sampai final. Karena me­mang kita berada dibelahan lain dunia yang terpaut se­kitar lima jam dengan waktu Deutchland (Jerman.red).
Pertarungan dunia yang akhirnya menobatkan Italia se­ba­gai championi el mundo alias juara dunia sepak bola 2006, membuat se­luruh penggila bola, khususnya di Indonesia berdecak kagum atas keberhasilan Italia memboyong supremasi tertinggi per­sepakbolaan dunia itu menuju negeri tim Azzurri. Tetapi, kita ju­ga tidak harus menutup mata kita untuk memberikan a­presiasi yang baik bagi tuan rumah Jerman yang berhasil menyelenggarakannya dengan sangat baik dan penuh ke­san.
Keberhasilan Jerman dalam melaksanakan event terbesar se­pakbola itu, tentunya tidak serta merta akan bisa dicapai tan­pa adanya profesionalitas dan pengalaman Jerman dalam me-manage event tersebut. Dengan menyediakan berbagai hal yang mendukung event sejagat itu, seperti penginapan bagi pa­ra pemain dan penonton piala dunia, mercandise- mer­can­dise piala dunia, transportasi, akses komunikasi, sampai maaf, bis­nis prostitusi. Tak hanya itu penonton juga dimanjakan de­ngan berbagai pelayanan mudah nan menarik dalam me­nik­mati pertandingan.
Snack, soft drink dan makanan berat sesuai dengan me­nu masakan yang sengaja didatangkan dari berbagai ne­ga­ra, khu­susnya negara peserta piala dunia. Penonton me­mang sangat di­manjakan dengan pelayanan layaknya hotel berbintang li­ma. Stadion sebagai One Stop Shopping, segala kebutuhan penonton bisa tercukupi tanpa ha­rus mening­gal­kan stadion pertandingan. Satu yang mung­kin belum tersedia di­sana, yaitu nasi pecel karena Indonesia ma­sih belum be­run­tung untuk menjadi kandidat peserta piala du­nia 2006.
Hasilnya, Jerman meraup berjuta-juta Poundsterling ke­un­tungan dari World Cup 2006 besutannya. Waah …. gile be­neer. Jumlah uang sebanyak itu tentu­nya sangat menguntungkan sekali. Alih-alih, mungkin bisa untuk mengurangi in­fla­si dan mengurangi utang luar negeri ne­ga­ra kita yang semakin bejibun menjerat leher.
Memang harus kita akui sepak bola di da­ratan Eropa, Amerika Latin, Afrika dan se­­bagian negara Asia memiliki sistem ma­na­­gerial yang profesional dibarengi di­si­plin yang tinggi, baik itu managemen klub ataupun pemainnya. Oleh karena itu, disana bis­­nis sepak bola bisa dijadikan la­han be­ri­n­vestasi yang sangat me­ngun­tungkan, ka­­rena bisa mendatangkan ba­nyak sekali ke­­untungan.
“Bisa nggak ya di Indonesia?”. Siapa­pun orang di Indonesia akan susah untuk bi­­sa menjawabnya. Hendaknya mo­men­tum piala dunia yang baru saja tamat itu bi­­sa kita jadikan tempat berkaca dan bahan acuan bagi kita o­rang Indonesia, khu­sus­nya bagi mereka yang concern de­ngan masalah persepak­bo­laan di negeri ini. Bagaimana me­reka me-manage klub­nya, bagaimana dukungan serta a­presiasi para pe­non­ton­nya, dan bagaimana mereka men­jadikan bisnis Si Kulit Bun­dar ini bisa tetap exist dan se­makin baik tiap tahunnya.
Kalau boleh flashback ke jaman baheula’. Orang In­do­ne­sia masih banyak yang belum tau, kalau pada sekitar ta­­­hun 1830an Indonesia pada waktu itu bernama Hindia Be­landa di masa kolonialisme, mampu menembus perhelatan se­p­ak bola Julies Rimet Cup, alias piala dunia tempoe’ doeloe’ melawan CCCP atau Russia. Jadilah Indonesia se­ba­gai negara asia pertama dalam sejarah yang mampu masuk piala dunia. He­bat bukan..?
Moyang kita ternyata juga orang hebat sama dengan me­reka yang masuk World Cup 2006, dan kita boleh bangga ka­renanya. Namun, terlalu naif sekali jika kita hanya bisa men­jadi penonton World Cup selamanya. Spirit of Football yang ternyata sedari dulu sudah kita miliki harusnya di jadikan sebagai ti­tik tolak untuk memperbaiki persepakbolaan di Indonesia. Mu­lai dari klub-klub kecil di daerah, sampai Timnas kita sebagai ujung tom­bak si’ar kemajuan sepakbola Indonesia.
Saya yakin nantinya investasi “Si Kulit Bundar” di In­do­­nesia bila di-manage layaknya AC. Milan, Arsenal ata­u­pun seperti tetangga Asia kita Jepang, akan menjadi salah sa­­tu alternatif berinvestasi yang sangat menarik bagi sia­pa­­pun. Siapa tau juga, jika iklim persepakbolaan di In­do­nesia se­makin membaik akan melahirkan pemain yang ber­ku­alitas, just like Diego Maradona versi Indonesia.
Semoga wacana ini tidak sekedar menjadi wacana usang yang lewat begitu saja. Kita harus selalu melecutkan cam­buk pengalaman yang ada untuk terus belajar dan mem­per­baiki segala kekurangan agar mereka yang ada di belahan la­in dunia ini tidak lagi memicingkan matanya dengan per­se­­pakbolaan Indonesia. Viva Indonesia!
*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah Provisi

Rabu, 31 Oktober 2007

One stop disaster call

BENGKULU--MIOL: Walau hanya berjarak sekitar 50 km dari ibukota provinsi, warga Bengkulu Utara yang menjadi korban gempa belum mendapat bantuan. Misalnya yang dialami warga Desa Penyangkak Kota Agung, Kecamatan Air Bersih, Bengkulu Utara yang hingga Kamis (13/9) belum mendapatkan bantuan apapun.
Kawasan yang terletak dekat dengan pantai itu, termasuk yang paling parah mengalami kerusakan. Puluhan rumah di wilayah itu rata dengan tanah."Masjid kami juga ambruk, entah di mana mau tarawih lagi," kata Murpin, 55, warga setempat. Warga lainnya, Edi Suprianto, 35 mengharapkan kemurahan hati para penyumbang, untuk memberi langsung bantuan kepada masyarakat.
"Jangan melalui pemerintah. Nanti malah enggak sampai ke kami. Saat ini, kami butuh tenda. Tak ada tempat untuk berteduh," keluhnya. (Sumber: Media Indonesia On-Line 14/9/07)
Tragis nian nasib Edi Suprianto dan tentunya para korban gempa Bengkulu lainya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak bisa kita pungkiri tetapi hal tersebut memang betul adanya. Bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Mengapa kita tidak benar-benar belajar dari pengalaman pahit sebelumnya tentang bencana alam seperti di aceh dan nias beberapa tahun yang lalu.
Kenyataan ini hendaklah dapat kita jadikan pelajaran yang sangat berharga bagi daerah-daerah lain di seluruh bumi nusantara tercinta ini. Jangan lagi kita bermain-main dengan nyawa manusia. Sudah bisa kita tengarai bahwasanya negeri kita tercinta ini terbentang digugusan daerah yang rawan bencana alam, baik itu erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, terutama gempa bumi dan tsunami.
Selain daripada itu siapa sih yang tahu kapan bencana itu datang, Nobody knows! Maka berangkat dari hal tersebut mari kita bersama-sama menyamakan visi ke depan bahwa kita tidak lagi mengangap enteng dalam hal kesiapan dan penanganan masalah bencana alam. Dalam hal ini kita semua harus melebur jadi satu, baik itu masyarakat, lembaga sosial kemasayarakatan, dan tentunya permerintah pusat dan daerah sebagai pengambil kebijakan.
Anda masih ingat dengan cerita negeri paman sam yang di obrak-abrik oleh Katrina beberapa waktu yang lalu? Nah, negeri super power sekelas amrik-pun kewalahan dengan badai super dahsyat yang menyebabkan sungai-sungai besar di seleruh negara bagian mereka meluap tak terbendung. Apa yang kurang dari amerika, segala teknologi mutakhir terkini sampai peralatan penanganan bencana alam beserta para rescuer-nya dan tetek bengek sarana pendukungya mereka punya. Tetapi apa yang bisa kita lihat, mereka tetap saja keteteran kalang kabut, alih-alih malah terjadi masalah sosial seperti penjarahan toko dan rumah-rumah yang ditinggalkan para korban.
Ada beberapa permasalahan yang harus kita cermati dan kita dalami mengenai managemen penanganan bencana secara umum, hal tersebut diantaranya masalah moralitas, manageman bencana yang efektif dan cepat, data yang akurat, prasarana pendukung seperti, infrasturuktur dan sumberdaya manusia, kebijakan pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan kultur masyarakat setempat yang harus benar-benar kita pahami.
Disisi lain kita juga harus memikirkan tentang para korban. Satu hal yang mereka inginkan, yaitu segera ditangani. Penanganan dalam hal ini, baik itu penganan masalah kesehatan dan masalah logistik bagi pengungsi. Jika hal tersebut mengalami kendala bisa sangat berabe. Seperti contoh penggalan berita berikut yang dapat kami cuplik.
PALEMBANG--MIOL: Tim Sumatera Selatan (Sumsel) Peduli yang mengangkut bantuan untuk korban gempa bumi di Bengkulu, dihadang ratusan warga Desa Suka Marga, Kecamatan Batiknau, Bengkulu Utara.
Dengan menghunus senjata tajam berupa parang, golok dan kayu, penduduk korban gempa ini mencegat iring-iringan kendaraan bantuan bencana Tim Sumsel Peduli. Menurut rencana, Tim Sumsel Peduli akan menyampaikan bantuan bahan makanan kepada Posko Kecamatan Ketaun, sekitar 11 km dari Kecamatan Lais, tempat berdirinya Posko Sumsel Peduli. "Kami minta semua barang di dalam mobil segera diturunkan. Cepat turunkan barangnya kalau mau lewat. Semuanya harus diturunkan. Kami selama ini hanya jadi tempat lewat saja, kami juga lapar, kami juga butuh bantuan," kata Kepala Desa Suka Saidi sebagaimana dituturkan Wakil Koordinator Tim Sumsel Peduli, Sumarwan, yang dihubungi wartawan dari Palembang, Selasa (18/9).
Warga mengaku, hingga hari ke-4 pascagempa belum juga mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah setempat. Bahkan Kepala Desa Saidi mengatakan desa mereka selama ini hanya dilewati tim bantuan yang hendak memberikan bantuan kepada desa lain. (Sumber: Media Indonesia On-Line 18/9/07).
Nah itu dia jadinya jika para pengungsi yang mengalami trauma psikologis karena bencana merasa tidak segera di tangani apa yang sedang mereka butuhkan pasca bencana. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah managemen bencana yang efektif dan cepat.
Jika di negeri ini memiliki sistem penanggulangan bencana yang komprehensif, dalam arti mampu menggalang bebagai macam komponen-komponen pendukung yang terlatih dalam konteks penanganan bencana selain pemerintah, misalnya seperti; PMI (Palang Merah Indonesia), ORARI (Organisasi Radio Amatir), PMK (Pemadam Kebakaran), Organisasi kepemudaan (PMR, pecinta alam, pramuka), klub-klub mobil Off Road dan masih banyak lagi komponen bangsa ini yang bisa diajak untuk bersinergi dalam masalah kemanusiaan ini.
Masalah yang sangat krusial yang selalu terjadi ketika bencana terjadi adalah tidak adanya informasi yang up to date karena semua alat komunikasi umum mengalami kerusakan. Hal tersebut menyebabkan segalanya berjalan lamban dan simpang siur informasinya. Selain itu, ketersediaan transportasi juga sangat dibutuhkan, mengingat kebutuhan logistik harus segera digelontorkan kepada seluruh korban, apalagi para korban yang berada di daerah terpencil dan akses transportasinya hancur oleh bencana dapat segera tertolong.
Kalau para pebisnis franchaise baru-baru ini memiliki strategi dagang One Stop Shopping agar para pelangganya tidak lari kelain tempat untuk mencari kebutuhanya, karena seluruh kebutuhan yang mereka inginkan semuanya ada di tempat itu. Mengapa kita tidak bisa membuat manajemen bencana “One Stop Disaster Call” sehingga ketika bencana itu datang dengan hanya menekan satu tombol saja kita bisa memobilisasi seluruh komponen tanggap darurat yang ada secara cepat.
Membangun rooting management seperti ini bukan mustahil untuk kita buat. Satu hal yang sangat dibutuhkan untuk membangunnya, yaitu Political Will dari pemerintah sendiri. Ketika kita sudah memiliki kerja sama yang sinergis dengan visi yang sama yaitu, menyelamatkan jiwa manusia. Niscaya lambanya penanganan korban bencana, korupsi dana korban bencana dapat kita minimalisir. Save This Nation!

Antara Lingkungan, Kultur dan Mendengkur

Se­lamat pagi Indonesia! Isu lingkungan dewasa ini su­­­dah men­jadi sarapan pa­gi ba­gi kita semua, ba­ik itu ma­syarakat global ma­upun khu­­sus­nya bagi kita orang Indo­ne­sia. Dampak yang tim­bul dari ke­la­laian manusia diseluruh penjuru du­nia ti­dak ter­kecuali masyarakat In­­­do­­ne­sia dalam memandang pen­­ting­­­nya men­jaga dan meles­ta­ri­kan ling­ku­ngan hidup tem­pat kita hi­dup dan beranak-pinak diatas bu­mi yang se­ma­­kin tua ini se­­makin me­­­­­nge­rikan na­­mun ke­rap­­­kali te­r­a­ba­i­kan.
Berbagai MoU (Me­mo­­ran­dum of Un­­­­der­stan­­ding) ten­tang ling­­ku­ngan te­­lah di­se­pa­kati, Pro­to­­kol Kyoto telah di­ta­n­da­ta­ngani be­­berapa tahun yang lalu, Un­dang-un­dang tentang ling­ku­ngan te­lah di­setujui pe­me­rin­tah na­mun tetap sa­ja ma­sih ada di­sa­na-sini kita li­hat dan kita de­ngar be­­rita tentang ke­rusakan ling­ku­ngan dan ribuan nya­­wa me­layang ka­rena kelalaian ma­nusia men­­ja­ga dan meles­ta­ri­kan ling­ku­ngan.
Khususnya di Indonesia isu ling­­kungan ma­sih menjadi suatu ma­­salah yang begitu pelik dan se­ma­kin tidak berangsur-angsur men­­jadi se­makin baik. Liat saja se­­perti masalah sampah yang ter­­jadi di kota Jakarta dan Ban­dung dan ham­pir seluruh kota be­sar di ne­geri kita ini sam­pai men­ja­di ma­sa­lah sosial yang semakin ru­mit un­­tuk diatasi. Belum lagi kita ngo­­mong masalah pen­cemaran lim­bah pa­brik yang mengandung lo­­gam be­rat seperti yang terjadi di Buyat. A­­taupun penambangan pa­sir timah di propinsi Bangka Be­li­tung yang di­­lakukan secara spo­ra­dis tanpa a­da­nya pengawasan se­cara kom­pre­hensif dalam pe­nge­lolaan lim­bah­­­nya. Illegal Log­ging yang su­dah mem­be­ra­ngus ham­pir 40% ka­wa­san hutan negeri kha­tulistiwa se­­raya ti­dak akan per­nah berhenti me­­matikan chain saw-nya .
Kalau kita melongok ba­gai­ma­na te­tangga kita Jepang yang da­hu­lu per­nah mengalami mendung ke­lam ka­rena penduduknya ba­nyak yang me­ngalami sindroma mi­namata ka­rena lingkungan hi­dup mereka ter­cemar limbah lo­gam berat, se­ge­ra membuat an­ti­si­pasi supaya fe­nomena ling­ku­ngan yang me­nge­ri­kan itu ti­dak ter­jadi lagi. Seluruh kom­ponen yang ada di negeri sa­ku­ra itu, ter­masuk pemerintahanya ber­sama-sa­ma berkomitmen un­tuk me­me­li­hara dan memanfaatkan ling­ku­ngan sesuai dengan a­turan yang a­da. Beberapa tahun kemu­di­an me­reka sudah dapat me­reguk ha­sil dari komitmen dan ke­di­si­pli­nan ber­sama dalam men­ciptakan ling­ku­ngan mereka menjadi lebih ba­ik. Bahkan me­reka bak seorang tu­­kang sulap, sampah yang di­ha­sil­­kan rumah tang­ga maupun pa­brik dengan menggunakan tek­no­lo­­gi mutakhir da­pat dijadikan men­ja­di barang yang berguna seperti me­­ja, kursi bah­kan sampai bisa men­­jadi bahan campuran con­struk­­si jalan tol.
Kok bisa ya? Rahasianya ter­nya­ta sederhana, orang-orang ma­ta sipit itu memiliki kedisiplinan yang luar biasa, dengan me­na­nam­kan pengetahuan lingkungan se­da­ri dini, mulai mereka du­duk di bang­ku sekolah dasar sudah dia­jar­kan bagaimana mem­per­la­ku­kan sam­pah dengan be­nar, baik itu me­milah dan mem­­buang sam­pah dan juga mem­be­­ri­kan penge­ta­hu­an ten­tang ke­­un­tu­ngan dan ke­ru­gian ten­tang sam­pah. Tidak tang­­gung-tang­gung pula pe­nge­na­lan ling­ku­ngan ter­se­but sudah di­ja­dikan se­ba­gai mu­a­tan sekolah di­ seluruh sekolah.
Kegagalan Indonesia dalam me­nang­­­gulangi dampak lingkungan ti­­­dak terlepas dari kultur ma­sya­ra­kat In­d­onesia yang kurang di­si­plin, ha­nya segelintir orang saja yang me­mi­liki kepedulian dan ko­mit­men da­lam menjaga ling­ku­ngan tempat me­reka tinggal. Law en­­forcement me­ngenai lingkungan ju­ga tidak ber­jalan secara te­gas dan kon­sis­ten. Kesan yang mun­cul ke­per­mu­ka­­an adalah ki­ta se­mua masih se­te­ngah hati menjaga ke­­les­tarian ling­kungan tempat kita ting­gal mau­pun sum­ber daya alam ki­ta. Da­lam masyarakat kita ju­ga sa­­ngat kentara sekali kurangnya ke­­pe­­du­lian mengenai hal-hal se­der­­ha­na, seperti halnya mem­bu­ang sam­pah tidak pada tem­pat­nya tan­pa me­milahnya apa itu sam­pah ba­sah atau kering men­j­adi suatu hal yang wajar untuk di­la­kukan.
Akibatnya bisa ditanggung dan di­­rasakan sen­diri oleh ma­sya­ra­kat se­cara langsung. Sam­pah meng­gu­nung, air sungai menjadi ke­ruh, ba­­nyak sekali muncul penyakit, le­bih parahnya la­gi ma­sya­rakat In­do­nesia mengalami pho­bia ma­sal akan keberadaan sam­pah. Dalam be­nak ma­sya­ra­kat Indo­nesia sam­pai saat ini sam­pah ma­sih men­ja­di momok yang begitu di­ta­kuti dan meng­gang­gu.
Coba kita ingat kembali kasus TPST Bojong, ma­syarakat me­no­lak mentah-mentah kehadiran tem­­­pat pengelolaan sampah se­men­­tara di dae­rah itu. Hal itu wa­jar sekali muncul, pasalnya se­la­ma ini yang mereka ke­ta­hui sam­pah adalah sesuatu yang bau, tem­­pat dimana segala pe­nya­kit be­­rasal dan sangat merugikan me­­reka. Dan selama ini pe­nge­lo­la­an sampah hanya mandeg sam­pai menjadi pupuk or­ganik saja.
Pemerintah pusat pun juga ter­ke­­san kurang serius mengatasi ma­­­salah lingkungan, terbukti alo­kasi APBN untuk masalah ling­ku­ngan hidup sangat minim seka­li. Selain kurangnya sosialisasi ten­­tang bagaimana keuntungan dan kerugian dalam pengelolaan ling­­kungan hidup terutama ma­sa­lah sampah, pemerintah harus da­pat merubah stigma negatif ma­syarakat terhadap sampah.
Kalau kita memang mau untuk me­nabuh genderang perang me­nge­nai masalah ini tentunya kita ha­rus dapat mengadopsi ke­ber­ha­si­lan negara sakura dalam me­nga­tasi masalah ini, de­ngan mem­bangun segala infrastruktur pe­nunjang pengelolaan sam­pah men­jadi sampai menjadi berbagai pro­duk yang ber­man­faat sehingga sam­pai dapat memiliki nilai eko­no­mis bagi me­reka.
Hal tersebut sangat diperlukan, ka­­rena mungkin dengan cara se­per­­ti itu masyarakat kita tidak me­lihat sampah hanya sebagai mo­­mok saja melainkan juga dapat mem­­bawa keuntungan. Namun se­­mua itu kembali kepada sel­u­ruh kom­ponen di negeri ini, kalau sa­­ja ki­ta masih berkutat dengan ke­ti­dakdisiplinan dan in­kon­sis­ten­si ma­sal baik antara pemerintah se­ba­gai pemegang kebijakan dan ma­­syarakat dalam memelihara dan me­manfaatkan ling­ku­ngan de­ngan baik itu semua tetap akan men­jadi hal yang mustahil un­tuk di­wujud­kan.
Pilihannya jelas sekali, kita la­ku­kan sedari sekarang atau ti­­dak. Apa kita masih mau menunggu da­tangnya bencana lagi? A­tau, a­pa­kah kita setiap hari dapat ter­ti­dur pulas sampai men­deng­kur ka­rena lingkungan hidup kita sehat dan lebih sejahtera ba­nyak men­da­patkan uang tambahan dari me­ngelola sampah. Sun­gai kita jer­nih airnya karena bersih dari sam­pah? Anda pilih yang mana?

Selasa, 30 Oktober 2007

Public Sphere Vs Keadilan

Pertumbuhan pembangunan di Indonesia bisa dikatakan sedang me­ngalami titik nadirnya. Bila kita li­hat seperti halnya di kota-kota me­tro­politan di republik ini, seperti Ja­karta, surabaya, Bandung dan kota be­sar lainnya. Penciptaan infra­struk­tur yang ada sering kali tidak mem­per­hatikan prinsip-prinsip kein­da­han, kenyamanan, kesehatan, mau­pun keadilan.

Pada hakekatnya manusia memiliki ke­bebasan dalam mendapatkan ru­ang di dalam menjalankan ke­hi­du­pan­nya. Baik itu ruang untuk me­nge­lu­arkan pendapat, mendapatkan pen­di­dikan, pekerjaan dan ruang untuk da­pat menghirup udara bersih dan me­nikmati keindahan yang sama an­tara manusia satu dengan manusia la­innya.

Tanpa memandang warna kulit, ba­ha­sa dan pekerjaan dari masing-ma­­sing manusia, ruang publik (Pu­blik Sphere.Red) berhak di rasakan oleh sia­papun tanpa terkecuali. Ru­ang ter­buka publik merupakan salah sa­tu un­sur kebutuhan manusia yang se­­la­ma ini sering kita rasakan belum ter­­pe­nuhi, namun mulut dan mata ki­ta se­­nantiasa tertutup tidak pernah ter­­be­sit walau hanya untuk mengu­cap ataupun membayangkannya.

Dalam benak kita saat ini sudah ba­nyak terkontaminasi dengan ber­di­rinya gedung-gedung percakar la­ngit dan kesemrawutan kota yang mem­berikan implikasi dengan ter­ben­tuk­nya ka­rak­ter manusia-manusia kon­sumtif dan ku­rang humanis. Liat sa­ja Jakarta dan ko­ta besar lainnya, rush hour yang ter­jadi setiap harinya mem­bentuk ma­nusia egois dan naif. Me­reka semua sudah terkondisikan se­bagai manusia-ma­nu­sia robot, be­rang­kat kerja pagi dan pu­lang kerja ma­lam hari.

Ada sesuatu yang hilang dalam di­­ri mereka. Apa itu? Ya kertersediaan ru­­ang terbuka bagi mereka untuk se­je­­nak meletakkan punggungnya di bang­ku taman yang segar, ataupun me­ngerjakan sisa pekerjaan kantor di rum­­put hijau yang tertata apik de­ngan berbagi aktifitas masyarakat di da­­lamnya.

Selama ini kita selalu melihat ke­se­mrawutan dan kemacetan yang se­ma­kin membosankan. Kawasan pe­des­trian (trotoar jalan.red) yang se­mes­tinya dapat kita manfaatkan un­tuk berjalan dan menghela nafas ke­ti­ka kita berjalan menuju halte bus, atau saat kita bergandengan tangan ber­sama keluarga kita menikmati sore ha­ri tidak lagi dapat kita rasakan.

Kawasan pedestrian cukup satu me­­ter saja. Itu yang dapat kita sak­si­kan sekarang dimanapun berada di In­­donesia. Pe­ren­ca­­naan pemba­ngu­­­­nan kawasan per­kotaan hanya sela­lu mengu­ta­ma­kan keuntu­ngan saja. Be­lum la­gi kita a­kan ber­temu de­ngan ma­­sa­lah-ma­salah so­sial yang timbul, se­­perti ber­­de­ret­nya peda­gang-pe­­da­gang ka­ki li­ma, para tu­na­­wis­ma dan ke­semrawutan tem­pat parkir. S­e­ring ka­li kita merasa ter­sisih dan ti­dak me­miliki hak apapun de­ngan ka­w­a­san pedestrian.

Namun kita masih beruntung wa­lau­pun masih harus naik turun tro­toar yang sempit karena berbagai hal ter­sebut. Bagai mana dengan na­sib pa­ra tunanetra dan orang –orang yang hanya mampu berjalan dengan meng­­gunakan kursi roda. Apakah me­­reka juga harus ikut tersisih dan ha­­nya berhak untuk tinggal dirumah sa­­ja? Tentunya tidak bukan.

Dengan keterbatasan mereka, me­re­ka juga masih menyandang status se­bagai seorang manusia yang nota­be­ne memiliki hak dan kesempatan sa­ma dengan manusia normal. Na­mun kita seringkali memposisikan me­reka seolah-olah tidak ada, teru­ta­ma dalam hal pembangunan infra­struk­tur pu­blik, seperti pada kawa­san pedestrian dan ruang terbuka pu­blik.

Masih banyak sekali kaum-kaum mar­jinal yang terlupakan haknya un­tuk dapat menikmati ruang terbuka pu­blik. Konsep-konsep pem­ba­ngu­nan yang sekarang merujuk pada pem­bangunan yang konsumptif meng­hasilkan konsep pembangunan yang egoistis dan tidak memenuhi ra­sa keadilan.

Kalau kita tengok pada kawasan pe­destrian dan ruang terbuka publik la­innya, hampir tidak ada sama sekali ja­lur pedestrian yang menyediakan la­jur yang dikhususkan bagi manusia ku­rang sempurna ini, seringkali me­reka tersandung bibir trotoar atau ti­dak sanggung mengangkat kursi ro­da­nya yang berat untuk dapat berja­lan di trotoar, karena tidak ada trotoar lan­dai semuanya setinggi 30 cm.

Maka, mengalahlah mereka de­ngan berjalan menyusuri tepian tro­toar dengan resiko yang besar sekali, ka­lau tidak terserempet motor, bisa-bi­sa mereka tertabrak mobil dan mati. Si­apa yang harus bertanggung jawab a­pabila hal itu terjadi, anda, dia atau me­reka? Semua pasti akan sembunyi ta­ngan, kalau tidak ya saling tuding, alih-alih malah yang di salahkan Si o­rang buta tadi. Tidak bisa melihat kok jalan di jalan raya. Naif sekali ki­ta semua sebagi manusia normal!

Kalau saya diutus sebagai Si pe­ngam­bil kebijakan, saya akan menja­di­kan para kaum marjinal ini menjadi o­rang nomor satu yang harus di­per­ha­tikan hak publiknya, dan manusia nor­mal menjadi prioritas yang kedua, ka­rena resiko manusia normal dalam meng­hadapi suatu ancaman dalam hak publiknya.

Sering kali saya bermimpi kelak ko­ta tempat saya tinggal, memiliki ber­bagai ruang publik yang selain in­dah, bersih, nyaman, juga memiliki un­sur keadilan. Sehingga, ketika so­re atau pagi hari menjelang saya men­da­patkan kawasan community ga­the­ring yang saya idam-idamkan. A­lun-alan kota tertata apik, rumput hi­jau membentang, kursi taman di ba­wah pohon rindang yang terbebas da­ri gelandangan dan bau kencing, pe­dagang kaki lima yang teratur rapi. Dan ketika saya hendak pulang me­lewati kawasan pedestrian yang ber­sih sambil mendorong ayah diatas kur­si roda. Bisakah itu terjadi?

Perlu kesepahaman semua pihak dalam merencanakan pembangunan yang berwawasan dan berkeadilan, dan tidak selalu me­men­tingkan ke­un­­tu­ngan saja. Pe­m­e­rin­tah sebagai sang pengambil ke­­­bi­ja­kan hen­dak­nya me­r­encanakan de­­ngan sangat ma­­­tang dan ber­ke­lan­ju­tan me­nge­nai pem­­ba­ngu­nan dan peme­nu­han ruang pu­blik­nya. Dengan meng­gandeng o­rang-o­rang yang ber­kom­pe­ten da­lam merumuskan pen­ciptaan ru­ang pu­blik yang me­me­nuhi unsur-un­sur ter­sebut diatas, seperti planolog, ar­si­tek, tokoh tokoh publik dan orang-o­rang yang be­r­kom­peten dalam pem­ba­ngunan ru­ang publik ini.

Hal tersebut sangat perlu untuk di­b­icarakan, karena sering kali pem­ba­ngunan yang dilakukan tanpa per­tim­bangan tadi pada kemudian hari se­nantiasa menimbulkan terjadinya ma­salah sosial yang pelik. Alangkah le­bih baiknya apabila pemerintah da­pat belajar dari negara lain, dan da­pat menelorkan kebijakan-kebijakan pem­bangunan yang berwawasan ja­uh kedepan dan tidak melulu ber­ten­densi pada keuntungan semata. (*)